Aku & Tuhan dalam Bulan Ramadhan

Tuhan
Terima Kasih
Telah Engkau beri kesempatan berulang-ulang
Dunia ini serasa hanya berdua
aku & Tuhan, dalam Bulan Ramadhan

Tuhan
Terima kasih
Aku yang Hina dan berlumur dosa
Engkau bersedia secara khusus memberikan balasan
Sekecil apapun balasannya
Atau bahkan tak terbalas
Aku tetap bersyukur & berbunga-bunga
Kembali merasakan Engkau menilaiku secara khusus
Dalam Berpuasa di Bulan Ramadhan

Tuhan
Maafkanlah
Bila puasaku masih saja hanya menahan lapar dan dahaga
Tak berbohong diterik siang
Memindahkan hawa nafsu dalam dinginnya malam
Namun tak bosan-bosannya meminta terkabulkannya doa-doa kebahagian
Sekaligus mendapatkan malam seribu bulan dalam Bulan Ramadhan

Tuhan
Hamba-Mu ini tak meminta Hidayah kecuali yang Kau berikan
Biarpun puasaku belum mencapai keikhlasan
Aku akan selalu berdoa
Berusaha sekuat kekuatan yang Engkau berikan
Agar Ramadhanku yang sekarang lebih baik dari masa silam

Tuhan
untuk yang terakhir aku mengulang permintaan
Pertemukan aku di masa-masa mendatang
Berpuasa dan Bermunajat di Bulan Ramadhan

Pasuruan, 28 Mei 2018
Makhfud Syawaludin

Iklan

Antara Aku, Marah, & Cinta

 

Lelaki mana yang tak Marah!
Lelaki mana yang tak Marah!
Lelaki mana yang tak Marah!
Lelaki mana yang tak Marah?
Aku pun, Marah.

Aku sudah percaya
Sudah percaya.
Hingga aku tak percaya
Sungguh tak percaya…
Sungguh tak percaya…

Saat aku percaya karena tak percaya
Kau…
Injak-injak harga diriku
Kau…
Hancur leburkan hatiku
Kau…
Kau…
Kau…
Entahlah…
Percaya atau tak percaya
Kau tetaplah engkau
Sahabatku
Dan dikau tetaplah engkau
Pujaanku
Aku tetaplah Aku
Marah adalah Aku
Memaafkanpun adalah Aku
Engkau adalah Aku.
Aku adalah Dikau
Dikau… Kebingunganku…
Kebingunganku… Doaku…

Pasuruan, 21 Maret 2018
Makhfud Syawaludin

H2C (Harap-Harap Cemas)

 

Hampir tak ada yang berbeda

Dalam sajak-sajakku tentang Cinta

Engkaulah satu-satunya…

Selamanya…

Begitulah kira-kira.

 

Bahkan kutulis sajak ini pun

Sepertinya sama

 

Andai ada yang berbeda

Engkau tak tahu

Engkau telah menjadi satu-satunya

Semoga.

 

Sepertinya engkau mulai merasa

Kedekatanku tak seperti biasanya

Sepertinya…

Andai hanya sepertinya… Biarlah…

 

Andai aku tiba-tiba menyatakan cinta

Aku hanya terbayang Engkau menerimanya

Seandainya itu benar adanya

Tunggulah sebentar saja

Seandainya sebaliknya…

Seandainya…

Aku tak mau membayangkannya.

 

Andai aku tak juga menyatakan cinta

Mengertilah…

Aku ingin menjaga hingga waktunya

Terus berdoa

Hingga ditakdirkan Engkaulah

Sebenar-benar satu-satunya.

 

Andai sajak ini seperti sebuah janji

Sepertinya ini ku berdoa

Semoga engkau satu-satunya.

 

Andai ini seperti pernyataan cinta

Iya

Aku memang cinta

 

Sukorejo, 14 Jan 2018

Makhfud Syawaludin

Sebenar-Benar Cinta

Jujur aku selalu berkata
Aku cinta dengan cinta yang sebenarnya
Bersusah-susah
Berbahagia bersama
Setelah kita menikah

Memang berat dan aneh dizamannya
Zaman Milenial dengan beragam tipudaya
Tak meluangkan waktu bertatapmuka, dikira tak cinta
Tak mengajaknya berjalan-jalan bersama, dibilang sudah bertemu yang lainnya.
Setidaknya….
Aku sudah jujur tentang cinta dan cita-cita
Bersama mu sang penakluk rasa
Bahwa inilah cintaku dengan cinta yang sebenarnya
Kubuktikan dengan meminangnya
Menemaninya sampai batas usia

Begitulah cinta yang sebenarnya
Begitulah aku berdoa
Begitulah bukti aku memang cinta
Ya…
Cinta…

Bunder Sukorejo Pasuruan, 26 Nov 2017

Makhfud Syawaludin

Mengejar Cinta

 

Apabila perkataanku membuatmu marah

Itu karena kebingunganku mengatakan cinta

 

Apabila perhatianku membuatmu resah

Itu karena aku berusaha sekuat tenaga

 

Apabila usahaku tak menyentuh perasaanmu walaupun sedikit saja

Aku tak akan memaksamu untuk berkata sebaliknya

 

Aku hanya berkata

Jujurlah padaku saat berkata

Apapun jawabanmu aku akan mencoba memahaminya

 

Hanya saja…

Izin kan aku menunjukkan perasaan cinta yang terakhir kalinya

Karena apabila kau bersedia, kupinang kau sebagai buktinya

 

Pasuruan, 13/11/2017

Makhfud Syawaludin

Rohingya, Makna Cinta, Makna Marah

Rohingya

Manusia seperti Kita

Mempercayai Tuhan Yang Maha Esa

Celakanya…

Tak diakui kewarganegaraannya

 

Rohingya

Nyata adalah Manusia

Tak benar-benar menjadi manusia

Hidupnya teraniaya dan tak berdaya

Terusir dan diatas kata “sengsara”

 

Rohingya

Sebagai sesama manusia

Ingin sekali ku pinjam sumpah Ibu Malin Kundang

Jadilah Batu wahai kebencian

Tiba-Tiba kudengar seruan agama

Ini Bela Islam Jihad Di Jalan Tuhan

Serang Agama Budha dan Kepung Borobudur

Hingga bermacam-macam ekspresi kemarahan

Kebencian

Kebringasan

Kezholiman

Membara-bara

Agama makin menjauh dari kemanusiaan

Padahal “Agama jangan jauh dari Kemanusiaan” kata Gus Dur

 

Rohingya

Kuputuskan untuk berdoa

Sebab Para Kyai dan pemimpin negaraku sudah berusaha

Selesaikan lara dan duka

Untuk senyum manis Rohingya

 

Pasuruan, 6 September 2017

Makhfud Syawaludin

Penggerak KGSKR (Komunitas Gitu Saja Kok Repot) Jaringan GusDurian (JGD) Pasuruan

Benar, Bukan, Untuk Rohingya?

Benar…

Mengutuk Pembataian Etnis Rohingya

Bukan kepung umat Budha

Benar…

itu membala saudara seagama

Bukan.

 

Benar…

Urusan Politik Praktis

Bukan…

Berjihad di jalan Tuhan

Benar…

Politisir Nama-Nama Tuhan

Bukan…

Budha lawan Islam

Benar…

Politisasi pembantaian orang

Bukan…

 

Benar kata Gus Dur

“Kita butuh Islam Ramah Bukan Islam Marah”

Benar Bukan, Islam dibuat marah-marah?

Bukan…

Benar Bukan?

 

Pasuruan, 7 September 2017

Makhfud Syawaludin

Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) Jaringan Gusdurian (JGD) Pasuruan

Rinduku Padanya

Aku pernah berputus asa
Kupilih diam dan berdoa
Yang terbaik
Yang terindah
Untuknya

Hingga tiba begitu saja
Jalan kembali merajutnya
Walau harapan tidak kudapatkan darinya
Terima kasih
Bisa lebih dekat dengannya
Sungguh bahagia

Tibalah habis sebuah kata-kata
Namun tidak rinduku padanya
Seolah-olah waktu berjalan lambat
Namun begitu cepat
Hingga aku kembali berdoa
Yang terbaik
Yang terindah
Untuknya

Begitulah kira-kira
Kerinduanku padanya
Atau begitulah
Cinta

Pasuruan, 10 Juli 2017
Makhfud Syawaludin

Aku Turut Berduka Cita

Tampilan Google dengan kata kunci “Pembubaran HTI” (31 Juni 2017)

 

Hizbut Tahrir Indonesia

Delapan mei dibubarkan Penguasa

Kegiatannya menentang Pancasila

Perekat sakti bangsa Indonesia

 

Hizbut Tahrir Indonesia

Pembubaran katanya tergesa-gesa

Ancaman pecah belah bangsa tidaklah nyata

Sebab Khilafah hanyalah mimpi-mimpinya

 

Hizbut Tahrir Indonesia

Sirnanya melenyapkan Hak Asasi Manusia

Sebab kebebasan berserikat dalam Bahaya

Begitulah berita dan wacana yang kubaca

 

Hizbut Tahrir Indonesia

Aksi-aksinya tak sekejam gagasannya

Pengikutnya hanya sebagian kecil saja

Nyatanya… Memupuk benih perang saudara sebangsa

 

Hizbut Tahrir Indonesia

Melihat kebencian yang kau sebar dimana-mana

Sepantasnya sudah disirnakan selamanya

Meskipun semacammu akan terus ada

Sebab penjualan, kejahatan, & politisasi agama laris pasarnya

 

Hizbut Tahrir Indonesia

Dalam Thesisku aku ingin bertanya

Apakah makna “Indonesia” dalam namanya?

Apakah makna “Indonesia” seirama harapan pahlawan bangsa?

Seandainya seirama, bangkitlah dengan nama yang sama

Apabila berbeda…

Aku turut berduka cita

 

Pasuruan, 09 Mei 2017

Makhfud Syawaludin

Hanya Dalam Hati

Sepertinya kutemukan mutiara

Begitu cepat, indah, dan tanpa sengaja

Kulanjutkan mencuri pandang senyumnya

Begitu mempesona atau hanya fatamorgana

 

Sinar matanya serupa lirik lagu group band Dewa

“Tatap matamu bagai busur panah,

yang kau lepaskan ke jantung hatiku”

Senada pula dengan lirik lagu Andra, “sempurna”

“Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah”

Entah aku yang terpedaya

Atau benar kau menunjukkannya

 

Ingin sekali aku bertanya

Cinta…

Siapakah pemilik hatimu?

Bolehkah aku singgah?

Andai saja boleh, harap hatiku…

Tapi sudahlah…

aku tak jadi bertanya.

 

Gemuruh hatiku tetap bertanya-tanya

Tuhan, benarkah Ia? Ataukah Dia?

Mungkin juga bukan keduanya

Aku pun belum siap memilih diantaranya

Padahal belum tentu diterima

 

Untuk takdir jodohku

Sabar dan tunggulah

Aku sedang berusaha

Termasuk menemukanmu dan melamarmu

Bersama berkeluarga hingga di Surga

Amin.

 

Makhfud Syawaludin

Sukorejo, 29 April 2017